Whirling Dance di Istambul

Minggu, 16 Maret 2014




Malam mulai beranjak. Kelap kelip lampu dari berbagai mesjid indah di kota Istambul, menyembur bagai pelangi dimalam hari. Kota ini seperti tak pernah mati. Para turis mancanegara di sekitar jalan Sultanahmet hilir mudik.

Istambul sebagai kota wisata sejarah, seni dan budaya. Seperti sebuah takdir yang sudah tertulis. Kota nan indah. Kota yang menghormati akan sejarahnya. Mempunyai daya tarik bagi para pelancong untuk datang. Kota ini merestorasi situs-situs peninggalan sejarah.
Kota seribu mesjid begitu saya ingin menyebutnya. Kita akan melihat bangunan mesjid-mesjid megah disini, sekitar Sultanahmet. Turis pun diperbolehkan masuk dalam mesjid. Untuk menghormati yang sedang sholat. Dalam mesjid digunakan pembatas. Memang betul indah arsitek daripada bangunan didalamnya. 
Berada dikota yang pernah dikuasai para kerajaan besar dunia. Seakan saya berada hidup dijamannya . Tapi kali ini saya ingin melewatkan malam dengan menonton pertunjukkan atraksi seni di pusat kebudayaan. 
Segera saya dan kawan-kawan meluncur ke Hodjapasha Culture Center. Membeli tiket pertunjukkan dengan biaya $50. sebelum kehabisan. Jika anda ingin menyaksikan tarian Rumi yang berada di Istambul, anda bisa datang ke Hodjapasha Culture Center ini. Tepatnya di Kota Tua Sultanahmet. Lokasinya di dalam deretan café-café yang berjajar. Acara ini dipentaskan setelah diatas jam 7 malam. 
Malam itu tiket pertunjukkan terjual habis. Kursi yang tersedia penuh terisi oleh pengunjung. Mulai dari deretan depan hingga belakang. Penonton mengikuti aturan yang telah ditetapkan panitia. Tidak boleh memoto para penari. Sementara yang metik seruling, rebana berada di sudut pojok. Mereka semua mengenakan jubah putih longgar. Wajah-wajah dan penabuh alat musiknya wajah khas Turki.


Para pengunjung tidak diperkenankan membidik para penari dan mengeluarkan suara gaduh. Karena tarian ini sejatinya tarian meditasi ala sufi. Musik rebana mengiringi para darwis. Dalam ruangan hening. Para penonton seperti terbawa suasana dalam ruangan. 
Walaupun dilarang ambil gambar. Ada saja satu atau dua orang mengambil gambar diam-diam dengan menggunakan kamera hape maupun Tab.
Suara pun tak terdengar. Para penari satu persatu maju kedepan. Semuanya laki-laki. Usia para penari ada yang muda sampai usia tua, menyatu dalam barisan tarian magis ini. Saya sendiri diam menikmati syahdunya alunan musik pengiring. Menilik jubah putih besar dan memakai topi. Memutar tubuhnya dan saya tak sempat menghitung berapa kali putaran mereka berputar.  
Sebelum pertunjukkan dimulai, saya bertanya pada customer service Hodjapasha dalam bahasa inggris. “Apakah mereka memang dalam keseharian melakukan praktek nari itu?” Ia menjawab ia betul, ujarnya. 
Dalam tradisi Islam jamannya Rumi. Tarian ini sebagai pengantar menuju Tuhan. Nah, di Hodjapasha tarian ini bisa dinikmati beriringan waktunya dengan tari perut. Kalau menyaksikan lansung bisa tertawa sendiri loch. Menonton tarian spiritual lalu disuguhkan tarian yang aduhai eksotisnya. :)
Suka artikel ini! Share yuk keteman-teman:)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

MOST READING

Tweets..Tweets..Tweets