New Year 2011, di Pantai Perawan Garut

Rabu, 05 Maret 2014



Kalau sekarang sich ngetrend jalmur itu dengan sebutan "Backpacking." Hobby jalan-jalan tapi yang murah sekali, transport murah, tempat nginep murah," kalau bisa sich numpang atau tidur di mesjid." Namanya juga backpacing, ya yang penting tiba di tempat yang diangan-angankan.

Saya punya tetangga meja kerja di kantor namanya Ranti, dia jenis kelaminnya sama seperti saya ceweq. Hobby juga keliling dunia ini sama bernarsis ria, "clik" photo saya donk disini," gitu celotehnya.

Menjelang tahun baru 2011 ini, saya dengan teman saya membuat rencana ke Pantai Pameungpek Garut-Jawa Barat. Perjalanan kali ini tanpa itinerary dan jadwal ketat, by feeling aja. Wuih gaya teman saya itu sudah seperti backpacker sejati dech, pakai sendal jepit, bawa ransel di gendong. Saya sich masih mending agak rapihan dikit. Kali aja ketemu cowoq ganteng di angkot, "dalam hati saya."

Sebelum pergi, kami searching mbah google dan mencari informasi pada teman-teman yang sudah pernah ke Pantai Pameungpek. Sudah komplit informasinya, kami tentukan tanggal hajatannya. 30 Desember 2010 adalah tanggal keramat buat kami berdua.

Mau tahu routenya? Pasti donk…

Kami pergi agak manja dikit, naik bus Primajasa AC-Ekonomi Jurusan Jakarta-Garut ongkosnya Rp35.000 via tol Cipularang. Sepanjang jalan Ranti ngorok enggak ya…duh saya lupa lagi. Sampai di terminal Garut pas jam makan siang, karena perut keruyukan kami makan dulu di warung makan khas sunda sambil nanya-nanya angkot ke Pantai Pameungpek. Warung itu lumayan enak makannnya, tapi sambalnya ampun dech bau terasi, secara saya gak terlalu suka terasi. Tapi, karena lapar, samber saja itu nasi, lalapan sama ikannya yumy!. Belum selesai makan para calo udah nanya-nanya, "Neng, pantai…pantai". Sabar atuh mang, jawab saya (red: sabar bang).

Syarat utama backpacking kudu nawar yang kuat, apapun itu. Kendaraan maupun makanan. Kernet teriak-teriak nyari penumpang lain. Oh ya..mobil ¾ jurusan Garut-Pameungpek ongkosnya Rp25.000. Kalau weekdays katanya sich Rp20.000 saja. Tapi kalau hari-hari khusus kayak new year naik dikit ongkosnya. Lama juga kami nunggu muatan penuh. Ada beberapa cowoq dan ceweq naik. Saya berbisik ke Ranti, "kayaknya mereka mau ke Pameungpek juga dech". Udah bosen ngetem, pergi juga angkutan ini. Pemandangan Garut kami tinggalkan. Beralih ke perjalanan melalui hutan, kebun teh, jalan berkelok-kelok. Teman saya sampe mabok tuch, saking pusing berkelok-kelok jalannya.

Jarak kota Garut-Pameungpek 90 km. Setelah empat jam perjalanan, akhirnya sampelah ke Kota Pameungpek, tepatnya sebuah kecamatan. Untuk ukuran kecamatan cukup ramai, banyak pertokoan berjejer, fasilitas ATM juga ada beberapa. Kernet ngasi tahu kami, kalau mau ke Pantai Pameungpek harus naik lagi angkutan bayar Rp10.000. Ada hal menarik ketika turun dari angkutan desa. Ternyata yang bareng seangkutan itu ada yang kenal dengan temen saya Ranti. Basa-basilah kami sebentar. Trus mereka nanya, "Udah dapet kamar belum?". Jawab saya," Wah….kebetulan kami belum dapet penginapan."

Akhirnya kami deal untuk menyewa satu guest house namanya Perumahan Citra Agung, ratenya per malem/Rp300.000, ada kamar mandi dalam, 3 bed dan tivi. Tempatnya persis deket gerbang masuk menuju pantai Santolo-Pameungpek Garut-Jawa Barat. Kalau sharing untuk 10 orang, per orang kena charge Rp30.000/malam, murah kan guys?

Pantai Santolo

Pantai berpasir putih ini kerap banyak dikunjungi warga setempat, bahkan dari luar Garut pun banyak yang menyenangi pantai ini. Wisata alam murah, anak-anak bisa berenang, banana boat pun tersedia disana.

Menjelang detik-detik pergantian tahun, banyak warga berbondong-bondong ke tempat ini. Motor udah kayak semut aja, truk yang isinya muda-mudi, bahkan pake kolbak. Apapun kendaraannya yang penting bisa menikmati awal tahun kelinci 2011 di Pantai Santolo.

Sebelum jam 12 malam, kami makan dipinggiran pantai menikmati ikan bakar khas Pameungpek. Enak tenan, apalagi makannya ngumpul sama temen-temen meskipun temen baru kenal. Indahnya bersama para backpacker, baru kenal tapi rasanya udah setahun kita mengenal mereka. Canda tawa mencairkan suasana, tapi tentunya gak bisa gila…gilaan…malu hehhehe.

Pengunjung pantai ini jelang pergantian tahun ramai sekali. Tapi saya dan kawan-kawan bertahan hingga tepat jam12 teng. Kembang api, kamera balapan kilatan cahayanya menyambar langit nan gelap. Suara motor di pinggir pantai memekak telinga, mungkin gang motor.

Kalau mengintip pantai di siang hari. Ombak disini masuk keluarga pantai selatan, bergemuruh, biru langit diselingi awan putih terlihat menawan hati, pasir putih, hamparan karang mati, air laut jernih biru. Semua itu memanjakan mata yang memandang.

Kita juga dapat menyaksikan orang memancing, bisa juga loch berphoto dengan mereka. Narsis dot com pokoknya! Bahkan atraksi terjun ke laut dari jembatan dapat kita saksikan. Itu akan terjadi kalau pengunjung ada yang melempar uang kertas.

Pantai ini tempat mangkalnya para nelayan tradisonal, sebagai pencari ikan di Samudra Hindia. Di sekitar pantai ini ada banyak tempat menginap, penjual souvenir dan pakaian renang. Jangan lupa singgah ya ke lokasi peluncuran satelit LAPAN. Lokasinya sebelum menuju pantai ini. Billboardnya terpampang sangat jelas LAPAN!

Pantai Puncak Gua

Jangan ngebayangin pantai ini dalam gua loch, namanya memang Pantai Puncak Gua. Wuih keren dech hamparan sawah nan hijau, laut biru, langit membiru cerah. Gak ada beda dengan lokasi di Ubud Bali.

Akses kesini memang tak ada angkutan umum. Kita harus menyewa ojek atau angkutan pedesaan. Sepanjang jalan menuju pantai ini, disisi kiri dan kanan hamparan sawah dan laut. Jalan desanya pun sudah beraspal dan layak dilalui.

Pantai ini terletak dibawah. Curam buat saya menakutkan sekaligus excotic. Kalau mau latihan mati, silahkan jangan ragu mencobanya. Hamparan rumput hijaunya, mengoda badan untuk baring-baring jika ingin menyaksikan sunset. Lari ketengah hamparan savana patut dijajal, sambil berphoto ria.

Hening, angin sepoy-sepoy, cocok untuk seorang penulis datang ketempat ini. Pantai ini tak berbayar. Siapapun boleh nongkrong disini, sesuka hati. Kalau malam minggu ada beberapa pasangan remaja, menghabiskan waktu di pantai ini.

Pantai Rancabuaya

Pantai ini kurang terdengar gaungnya. Namun, pantai ini memiliki kekhasan tersendiri. Batu-batu karang besar, tebing batuan cukup tinggi. Ombak disini ganas karena berbatasan dengan Samudra Hindia. Anginpun kencang. Saya mau diphoto saja, kerudung gak bisa diam tuch.

Pantai ini mudah disusur. Karena jalannya mulus. Tersedia juga parkir yang luas. Penginapan kelas backpacker tersedia, juga kelas hotel masih dalam proses pembangunan. Ada lesehan makan, nyeruput kelapa muda, nasi gorengpun ada disini. Beli ikan segar, bisa juga. Saya melihat ada penjual ikan disitu. Sepertinya tempat lelang ikan. Karena terlihat berjejer perahu nelayan tradisional. Lokasi ini belum terjamah pengembang. Masih alami, pastinya jauh dari polusi.

Never ending for travelling

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

MOST READING

Tweets..Tweets..Tweets